Mengapa Latihan 10.000 Jam Tidak Cukup? Ini Kunci Sukses Menjadi Ahli
Pembukaan
Pernah dengar teori 10.000 jam? Itu lho, anggapan bahwa seseorang bisa jadi ahli di bidang tertentu kalau dia latihan selama 10.000 jam. Teori ini sempat populer banget, apalagi setelah dibahas di bukunya Malcolm Gladwell, Outliers. Tapi ternyata, ada fakta menarik yang jarang orang tahu: teori ini sebenarnya diambil dari riset panjang milik seorang profesor bernama Anders Ericsson.
Dan kalau kamu baca bukunya Peak, yang ditulis oleh Ericsson bareng Robert Pool, kamu bakal tahu bahwa latihan 10.000 jam aja enggak cukup. Yup, kamu enggak salah baca. Jumlah jam latihan itu enggak akan ada gunanya kalau enggak dilakukan dengan purposeful alias latihan yang terarah dan disengaja.
Buku Peak ini bisa dibilang game changer banget. Nggak cuma karena ditulis sama ahli keahlian manusia yang sudah meneliti topik ini lebih dari 30 tahun, tapi juga karena isinya benar-benar bisa ngebantu kita belajar hal baru dengan lebih efektif. Bahkan rating-nya di Goodreads lebih tinggi dari Outliers-nya Gladwell sendiri. Kebayang dong sebagus apa buku ini?
Bakat Itu Cuma Titik Awal
Sering banget kita denger orang bilang, "Ah, gue enggak berbakat di musik," atau "Dari kecil gue nggak bisa matematika," dan akhirnya menyerah begitu saja. Padahal, kata Ericsson dan Pool, alasan kayak gitu tuh udah basi. Kenapa? Karena otak manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Mereka menegaskan: keahlian itu bukan soal seberapa besar potensi yang kamu bawa sejak lahir, tapi soal apa yang kamu lakukan dengan potensi itu. Kalimat ini kayak tamparan halus buat kita yang sering cari-cari alasan.
Kalau kamu masih ngotot bilang, “Ya tapi gue nggak punya bakat,” coba deh balik pertanyaannya: sudah latihan dengan cara yang benar belum?
Naive Practice vs Purposeful Practice
Nah, di sinilah poin pentingnya. Ericsson dan Pool membedakan antara dua jenis latihan:
-
Naive Practice
Ini tipe latihan yang dilakukan berulang-ulang tanpa arah yang jelas. Misalnya kamu kerja 5 tahun ngurus media sosial, tapi tiap hari kerjaannya gitu-gitu aja, enggak belajar hal baru, enggak ada peningkatan. Skill kamu bakal mentok di level "cukup", nggak pernah naik kelas. -
Purposeful Practice
Inilah latihan yang benar-benar bikin kamu berkembang. Latihannya dilakukan dengan tujuan yang jelas, terukur, dan fokus. Bukan cuma sekadar “biar jago,” tapi lebih spesifik, seperti: memperbaiki pengucapan, memperluas kosakata, atau lancar ngomong bahasa Inggris dalam konteks kerja.
Intinya, kamu harus tahu apa yang ingin dicapai, dan kamu harus dapat feedback di setiap sesi supaya tahu apakah kamu membaik atau enggak. Tanpa ini, latihanmu cuma buang-buang waktu.
Empat Komponen Purposeful Practice
Supaya lebih konkret, purposeful practice biasanya punya empat komponen utama:
-
Tujuan spesifik
Nggak cukup bilang “gue pengen jago bahasa Inggris.” Harus lebih tajam: “gue pengen bisa presentasi bisnis pakai bahasa Inggris dengan percaya diri.” -
Latihan yang fokus dan intens
Harus ada waktu khusus, tanpa distraksi. Bukan latihan sambil buka Instagram atau sambil tiduran di kasur. -
Dapat feedback langsung
Supaya tahu mana yang perlu dibenerin. Bisa dari guru, teman, atau teknologi seperti aplikasi belajar yang punya fitur analisis kesalahan. -
Keluar dari zona nyaman
Ini yang paling berat. Tapi justru di luar zona nyamanlah kita berkembang.
Contoh Nyata: Belajar Speaking Bahasa Inggris
Misalnya kamu lagi belajar speaking, tapi udah enam bulan kok rasanya gitu-gitu aja. Nggak ada peningkatan berarti. Bisa jadi karena kamu masih latihan dengan cara yang naive. Mungkin kamu nonton film sambil ngomong sendiri, atau kursus grup yang pesertanya kebanyakan diam.
Coba ubah pendekatannya.
Kalau kamu punya anggaran, bisa cari tutor privat. Kalau nggak, bisa cari partner ngobrol di aplikasi. Bahkan sekarang ada AI coach yang bisa kamu ajak ngobrol 24 jam non-stop, kayak Elsa Speak yang udah makin canggih. Kamu bisa latihan pronunciation, belajar vocabulary, dan ngobrol pakai skenario tertentu—kayak simulasi wawancara kerja misalnya.
Mau tahu kamu udah sejauh apa progresnya? Tenang, ada feedback-nya langsung, dan sistem latihannya pun dipersonalisasi sesuai kemampuan dan kebutuhan kamu. Lengkap banget.
Belajar dari Para Ahli: Deliberate Practice
Level latihan selanjutnya adalah deliberate practice. Mirip dengan purposeful practice, tapi yang ini dilakukan langsung dengan bimbingan ahli. Jadi kamu enggak cuma latihan sendiri, tapi langsung diarahkan oleh orang yang sudah benar-benar paham soal cara melatih orang sampai jadi juara.
Contohnya? Kobe Bryant. Dia sadar betul kalau ingin jadi sehebat Michael Jordan, ya harus belajar dari pelatih yang sama: Tim Grover. Jadi dia enggak cuma latihan keras, tapi juga latihan yang benar, terarah, dan dibimbing oleh orang terbaik.
Memang nggak semua bidang cocok langsung pakai metode ini. Tapi prinsipnya bisa ditiru. Misalnya kamu pengen jago presentasi di kantor, coba pelajari gaya presentasi atasan kamu yang hebat. Lihat caranya membawakan materi, gaya bicaranya, struktur penjelasannya. Dari situ kamu bisa bikin latihan yang relevan dan spesifik.
Penutup
Gue sengaja enggak nutup artikel ini dengan kesimpulan klise karena hidup juga enggak sesimpel itu. Tapi satu hal yang pasti: kalau kamu ngerasa stuck, mungkin bukan karena kamu nggak berbakat, tapi karena kamu belum latihan dengan cara yang benar.
Coba evaluasi lagi: udah purposeful belum? Udah punya goal yang spesifik? Udah nyari feedback setiap latihan? Udah berani keluar dari zona nyaman? Kalau belum, ya sekarang waktu yang pas buat mulai.
Dan inget, belajar skill apa pun—mau itu bahasa, olahraga, masak, dagang, bahkan nge-gym—bisa banget pakai prinsip yang sama. Jadi, selamat latihan. Bukan 10.000 jam biasa, tapi 10.000 jam yang bermakna.
0 komentar:
Posting Komentar